Prangg's posts with tag: alat & bahan
 | TINTA | Mar 11, '08 12:44 PM for everyone |
Tentu saja tinta yang digunakan dalam penintaan sebuah komik berwarna hitam. Idealnya sih tinta cepat kering, tidak blobor atau anti air dan tidak mudah berubah warna menjadi kemerahan setelah termakan waktu. Ada comic ink yang memang dibuat untuk penintaan komik, tapi bisa juga (umumnya)menggunakan tinta bak atau tinta China. Tinta China bagus digunakan karena tidak luntur kena air dan biasanya lebih pekat (hitam) dibandingkan tinta tulis yang lain. Selain tinta hitam, lebih bagus lagi jika dikombinasikan dengan tinta putih. Tinta putih digunakan untuk membuat garis-garis sinar, atau efek dari sebuah benda yang berkilat dalam gelap, atau garis-garis pemanis yang lain. Bisa juga digunakan untuk menghapus garis atau goresan yang kurang dibutuhkan, baik menjorok keluar garis panel/terlalu panjang atau "kecelakaan" kecil saat penintaan. Tinta putih bisa menggunakan Tipe-ex, snowman, marker, bolpoint warna putih, atau bisa juga menggunakan cat poster warna putih. Gunakanlah tinta putih di atas warna hitam (tinta hitam) yang benar-benar telah kering sebab bila tinta dasar hitam belum kering benar, warna atau tinta putih yang kita goreskan diatasnya bisa bercampur dan justru mengotori lembar komik kita.(Prangg)
Bila sebelumnya udah kita bahas jenis pena dengan hasil goresan yang konstan/stabil maka untuk kali ini aku ingin menuliskan tentang pena yang sangat sering digunakan dalam penintaan komik dan memiliki hasil goresan yang beragam sesuai ukuran mata pena dan kekuatan dalam menekan pena saat digunakan. 1. Fude Pen ( Brush Pen ) Adalah sebuah pena deng an mata pena berupa kuas. Fude ( e dibaca jelas ) dalam bahasa Jepang sendiri artinya alat untuk menulis, tentu yang dimaksud adalah kuas karena tulisan dalam bahasa Jepang, baik hiragana, katakana maupun kanji memang ditulis awalnya dengan kuas. Jadi memang alat ini awalnya dibuat untuk menulis. Karena tinta sudah ada dalam tabung maka kita nggak perlu mencelupkan mata pena (kuas) ke tinta celup, nggak seperti kuas yang biasa kita kenal. Kepekatan tinta juga merata dan mudah di atur tebal garis hasil goresan. Mungkin di Indonesia agak susah mencari pena jenis ini, sebagai gantinya ya gunakan kuas yang berukuran kecil. 2. Pena celup Aku sendiri nggak tahu istilah pastinya,,, ada yang menyebutnya G-pen, pena kodok, nib pen atau entah apa lagi, yang jelas aku lebih senang menyebutnya pena celup karena untuk menggunakannya harus kita celupkan dulu ke dalam tinta. Seperti kuas, pena ini digunakan sambil memainkan tekanan pada mata pena sehingga hasil goresannya akan terlihat tebal-tipis. Tekanan yang ringan menimbulkan goresan yang tipis, sedang tekanan yang kuat akan membuat hasil goresan yang tebal. Ada beberapa ukuran yang biasanya dijual, cobalah dengan beberapa ukuran tersebut untuk mengetahui kecocokan kita menggunakannya. Di Indonesia kayaknya juga agak kesulitan mendapatkannya, tapi jangan khawatir.... Beberapa waktu yang lalu aku belanja tinta dan beberapa peralatan ngomik di sebuah toko alat seni di Tokyo, dan aku lihat ada beberapa pena celup yang dibuat dari batang-batang bambu. Aku beli satu dan mencobanya ternyata asyik juga,,, padahal bambunya kurang bagus menurutku karena getas dan mudah patah. Di Indonesia terdapat banyak jenis bambu, dan menurutku bambu dengan kulit bambu yang mengkilat akan lebih bagus bila kita gunakan. Contohnya bambu gading (yang berwarna kuning), bambu tutul dan masih banyak jenis bambu di Indonesia tercinta yang bisa dijadikan bahan pembuatan pena celup. Kita bisa gunakan batang bambu berukuran kecil dengan diameter seukuran jari tangan atau bisa juga dengan bilah bambu dan gunakan kulit bambu yang mengkilat sebagai mata pena. Pertama buatlah bambu tersebut seperti sebuah pena atau bambu runcing. Lubangi bambu tersebut kira-kira 1 sampai 2 cm dari ujung pena bambu menggunakan bor kecil atau paku yang dibakar ujungnya hingga panas. Kemudian belah mata pena hingga tembus ke lubang yang telah kita buat dengan silet atau cutter. Jadi deh,,, pena celup gratisan yang mutunya nggak beda jauh dengan pena berbahan logam. Ukuran ketebalan pena bisa kita buat sesuai dengan keinginan kita kan...?  Dengan pena ini kita bisa meminimalisir penggunaan drawing pen sehingga biaya produksi bisa kita kurangi. Gunakanlah drawing pen untuk garis dan gambar yang memerlukan penggaris saja, sedang untuk menggambar karakter, pohon, latar belakang, batu-batuan dll gunakanlah pena celup ini. Dijamin deh,,, ga perlu beli drawing pen terlalu banyak untuk satu judul komik. Cukup satu botol tinta bak/tinta cina yang murah meriah kan...? Sedikit tambahan, siapkan lap atau tisu untuk mengelap mata pena ketika kita gunakan agar selalu bersih dan nyaman digunakan kembali. 3. Pen Tablet (pena elektronik ) Pen tablet adalah sebuah mouse komputer yang berbentuk pena yang berpasangan dengar papan datar tempat kita menggambar. Papan tersebut kita sambungkan ke komputer dengan kabel USB sedang pena sendiri menggunakan batery. Pen tablet tentu dilengkapi cd software bawaan sebagai driver. Tiap pen tablet memiliki karakteristik, tool dan kemampuan yang berbeda. Biasanya semakin mahal fungsi toolnya juga semakin banyak. Karena itu nggak bisa aku bahas tentang pen tablet ini secara detail karena pen tablet punyaku mungkin beda dengan yang lain atau juga sebaliknya. Dengan pen tablet kita bisa membuat komik langsung dengan komputer sehingga tak lagi menggunakan pencil, tinta dan alat manual lainnya. Tentu kalo dihitung akan lebih ekonomis bila ingin serius dan profesional ngomik, tapi tergantung juga dengan kebiasaan. Aku sendiri jarang menggunakan pen tablet karena mataku udah ga kuat kalo kelamaan nggambar dengan komputer. Ada bermacam cara komikus dalam menggunakan pen tablet ini. Ada yang langsung sket sampai akhir, ada yang sketnya pake pensil manual dan penintaanya menggunakan pen tablet ada juga yang finishingnya saja menggunakan pen tablet. Silahkan lihat video "How I draw my comic" di blog ini, atau akan kita bahas nanti secara tersendiri. Catatan : Alat-alat tersebut di atas bukan sesuatu yang wajib, sekedar tahu saja ga papa kan...? Ada komikus yang hanya menggunakan satu buah pena, ada juga yang bermacam-macam.... Gunakan pena sesuai dengan kecocokan kita,,, yang mahir menggambar dengan drawing pen belum tentu bisa menggunakan pena celup dan begitu sebaliknya. Tak masalah, toh hasil goresan tangan kita akan terbentuk menjadi ciri khas kita... Jika ada kesalahan tentang tulisan di atas, mohon koreksi dari teman semua,,, Semoga bermanfaat... Salam Ngomik, Prangg RN
Ada banyak jenis pena yang bisa digunakan untuk melakukan penintaan pada proses pembuatan komik. Asalkan berwarna hitam atau gelap, sebenarnya semua bisa digunakan, tetapi tentu hasil goresan tiap-tiap pena dan ukuran ketebalan garisnya berbeda. Wah,,, aku bingung juga dengan yang namanya pena,,, sebab jenisnya kan buanyak banget, mereknya juga bejibun... Tapi ya sudahlah, biar jelas aku kasih ilustrasi gambar (foto) aja. Aku golongkan semampuku, nama-nama penanya juga aku sendiri ga begitu yakin bener, jadi tolong koreksi kalo salah ya.. Namanya juga sama-sama belajar... Pen/pena, Marker, Drawing Pen, Technical Pen, Gel pen dll. Pena-pena ini sering digunakan dalam pembuatan komik. Garis yang dihasilkan stabil atau memiliki ketebalan yang konstan. Biasanya terdiri dari 0,1 mm, 0,3 mm, 0,5 dan seterusnya sampai 1 mm. Pena jenis ini biasanya digunakan untuk membuat gambar benda-benda yang simetris dan mempunyai bentuk yang kaku dan tetap seperti perabotan rumah, alat-alat kerja, panel (kotak-kotak) komik, garis gerak dan bisa juga digunakan untuk mengarsir untuk mata pena dengan diameter kecil. (lihat contoh gambar berikut...)  Dilihat dari isi tintanya pena ini ada dua jenis. Pertama pena dengan tinta yang disimpan dalam tabung atau busa berbentuk silinder. Hanya dapat digunakan dalam sekali pake, begitu tinta habis ya buang. Harganya relative murah dan mudah ditemukan di manapun dengan berbagai ukuran dan warna tinta. Tentu untuk membuat komik menggunakan warna hitam. Yang kedua pena dengan tinta yang bisa diisi ulang. Mereknya bermacam-macam, ada yang murah ada juga yang mahal. Untuk Technical Pen isi ulang merek "rotring" dan "staedler" memiliki kualitas garis yang baik, tapi terlalu mahal untuk pembuatan komik. Pena tersebut biasanya digunakan oleh arsitek atau desainer, baik perancangan bangunan, konstruksi, interior dan eksterior maupun desain produk, yang nota bene membutuhkan kepresisian dan kerapihan yang tinggi. Lupakan saja laaaah,,, sebagai gantinya gunakan pena isi ulang yang ini (lihat foto 4). Aku sendiri nggak tahu namanya, padahal sejak kecil sering memakainya... Tapi hati-hati dengan pena jenis ini, sebab tintanya mudah "mblobor". Karena itu pilih beberapa merek tinta yang anti air dan tidak berubah warna menjadi kemerahan jika sudah lama. Karena Indonesia iklimnya tropis, kadang cuaca panas membuat tangan keringetan dan gambar yang sudah ditinta jadi kotor kena campuran tinta dan keringat. Juga jangan mengisinya dengan tinta bak (tinta cina) karena walaupun tahan air tapi mudah mengental dan pena jadi sering mampet, jadi tinta ini kayaknya bagus digunakan dengan pena celup atau kuas. Paling bagus sih tinta yang memang dibuat khusus untuk ngomik. Salam Ngomik, Prangg RN
Alat berikutnya adalah penggaris. Tahu dong fungsinya kan..? Namanya penggaris ya untuk membatu membuat garis dengan rapi. Tidak hanya garis lurus, tapi juga garis-garis lengkung akan lebih bagus dan indah jika menggunakan penggaris. Ada beberapa macam bentuk penggaris yang sebaiknya dimiliki seorang komikus : - Penggaris lurus panjang, digunakan untuk membuat garis tepi dan panel-panel komik. Ada beberapa komikus yang membuat sebuah mal (cetakan) berupa kertas yang agak tebal. Kertas tersebut dipotong sesuai ukuran margin komik yang ingin dibuat, kemudian mal itu digunakan sebagai penggaris tepi gambar. Katanya sih buat ngirit waktu.... - Penggaris lurus pendek, digunakan saat penintaan. Mudah digunakan pada garis-garis detail yang pendek. Kenapa harus pendek, karena jika penggaris terlalu panjang saat meninta sebuah panel komik ujung lain penggaris bisa menempel pada bagian lain panel yang telah ditinta namun belum kering. Tentu gambar kita akan belepotan dan menjadi kotor. Penggaris ini juga usahakan lebih tebal dan memiliki kedua sisi yang pipih agar tinta tak merembes masuk sela-sela penggaris dan kertas. Penggaris ini juga mempunyai bermacam ukuran dan bentuk lengkungan, oval atau lingkaran. Bagi anak-anak desain dan teknik mungkin tak asing lagi. Digunakan untuk membuat garis efek dari gerak melingkar, bentuk bangunan, jalan dll. Jika merasa percaya diri mungkin penggaris ini bisa ditinggalkan, namun hasilnya tentu akan berbeda. Semua model penggaris biasanya ada di toko buku dan alat tulis, jadi tinggal siapin aja sedikit uang untuk mendapatkannya. Nah, kalau uangnya nggak ada...? Bikin aja pake bambu yang diraut pipih, selain dipake sendiri mungkin bisa dijual... He.he.he.... yang penting kreatif !  Salam Ngomik, Prangg RN (bayungyasa @ yahoo .com )
 Dalam pembuatan komik, mungkin peranan pensil seperti air saat pembangunan rumah. Baik rumah sederhana maupun gedung bertingkat dan modern, air sangat dibutuhkan. Tapi begitu bangunan selesai, air tak terlihat sebagai bagian dari sebuah bangunan. Begitu pula nasib pensil, habis manis sepah dibuang : habis penintaan pensil dihapus.... Memang kita bisa menggambar langsung dengan tinta di atas kertas, tapi membuat komik sangat berbeda dengan menggambar artwork biasa. Gambar-gambar dalam panel-panel komik harus sesuai dengan emosi, karakter dan alur cerita yang selalu berubah. Tokoh yang banyak, cerita dengan emosi yang kuat akan sangat sulit jika dibuat tanpa sketsa. Anda bisa menggambar wajah manusia. Mudah memang. Tapi gambarlah wajahnya saat terkejut, saat menangis, saat tertawa, saat berfikir, saat bengong tanpa ekspresi... tetap dengan karakter dan garis wajah yang sama. Kecuali anda seorang dewa, pasti kesulitan tanpa menggunakan pensil dan sketsa. Bagaimana jika menggunakan komputer..? Bisa saja pencil ditinggalkan dan sebagai gantinya pen tablet ( pena elektronik ), tapi ngomik kan butuh waktu yang lama. Kadang sampai lupa waktu. Jika terus berada di depan komputer dalam waktu yang lama, mata terus melotot ke monitor, tahu sendiri deh akibatnya buat mata anda... Jadi tak usah gengsi, tetaplah menggunakan pensil. Saat membuat komik aku lebih senang pensil yang berujung runcing, sebab dalam membuat sketsa akan lebih mudah menggambar hal-hal yang detil dan rumit jika menggunakan jenis pensil ini. Agar tak memakan waktu untuk meraut pensil, lebih baik gunakan pensil mekanik ( pensil isian) yang biasanya punya ketebalan 0,5 mm. Gunakan jenis 2B yang agak lunak dan mudah dihapus. Di Eropa dan Amerika ada yang menggunakan pensil warna biru/hijau untuk sketsa (lihat video How I Draw My Comic) agar saat di scan setelah penintaan sketsa tak perlu dihapus. Secara otomatis warna biru/hijau dapat di blok dengan scaner. Tapi bagi yang tak memiliki scaner seperti ini, pake penghapus aja deeeeh. PENGHAPUS KARET Prinsipnya, semua karet yang dapat digunakan untuk menghapus dengan bersih. Bisa berupa penghapus yang dijual di toko maupun karet gelang yang diiket ke pangkal pensil kayak anak SD dulu gitu lho. Biar ngirit..!!! Makanya, kalau beli nasi bungkus di Warteg minta aja bungkusnya diiket pake dua karet.... Lumayan kan buat cadangan...?
 | KERTAS | Oct 1, '07 7:32 AM for everyone |
Sebelum kita membuat komik secara digital, tentu terlebih dulu harus menguasai teknik ngomik secara manual. Dan bahan penting dari sebuah komik yang baik adalah kertas yang baik juga. Sebenarnya, di Jepang ada kertas khusus untuk ngomik yang biasanya terdiri dari tiga ukuran. Kertas khusus ini memiliki garis ukuran di keempat tepinya, sehingga lebih memudahkan dalam menggambar panel-panel komik. Terdapat juga beberapa kotak untuk menuliskan halaman, judul dan beberapa keterangan lain, sehingga bila dikerjakan oleh sebuah team atau studio maka dengan membaca keterangan tersebut seorang inker bisa lebih cepat memahami maksud dan keinginan pensiler tanpa harus ngobrol (kalau ngobrol mulu, kapan kelarnya tuh...?). Begitu juga sebaliknya,orang-orang yang bertanggung jawab pada storyboard, pensiler, inker dan coloring (berwarna) atau tooning (hitam-putih) bisa saling memberi informasi di halaman komik tanpa takut mengotorinya karena ukuran kertas lebih lebar dari ukuran image (gambar) sebenarnya yang akan ditampilkan. Kertas komik (comicbook paper) untuk profesional menggunakan ukuran B4 sedangkan untuk yang sekedar suka-suka biasanya menggunakan ukuran A4 atau B5. Dengan kertas B4 tentu kita akan lebih mudah dalam menyusun dan menggambar panel-panel komik, dan satu keuntungan lainnya gambar kita akan terlihat halus jika dicetak dalam ukuran yang lebih kecil. Kasusnya sama dengan foto digital yang resolusinya gede dibanding yang kecil. Permasalahannya, di Indonesia jenis kertas ini belum pernah saya jumpai di toko buku umum. Jadi lupakan saja. Tapi toh tak ada rotan akar pun jadi. Kita bisa menggunakan kertas HVS polos 90 gram atau kertas gambar yang lain. Cobalah beberapa merek dan jenis kertas yang tidak "mblobor" dan tentunya murah meriah. Biar nggak tekor kan..? Salam NGOMIK, Prangg RN (bayungyasa @ yahoo. com )
| |