Sebelum kita membuat komik secara digital, tentu terlebih dulu harus menguasai teknik ngomik secara manual. Dan bahan penting dari sebuah komik yang baik adalah kertas yang baik juga.
Sebenarnya, di Jepang ada kertas khusus untuk ngomik yang biasanya terdiri dari tiga ukuran.
Kertas khusus ini memiliki garis ukuran di keempat tepinya, sehingga lebih memudahkan dalam menggambar panel-panel komik.
Terdapat juga beberapa kotak untuk menuliskan halaman, judul dan beberapa keterangan lain, sehingga bila dikerjakan oleh sebuah team atau studio maka dengan membaca keterangan tersebut seorang inker bisa lebih cepat memahami maksud dan keinginan pensiler tanpa harus ngobrol (kalau ngobrol mulu, kapan kelarnya tuh...?). Begitu juga sebaliknya,orang-orang yang bertanggung jawab pada storyboard, pensiler, inker dan coloring (berwarna) atau tooning (hitam-putih) bisa saling memberi informasi di halaman komik tanpa takut mengotorinya karena ukuran kertas lebih lebar dari ukuran image (gambar) sebenarnya yang akan ditampilkan.
Kertas komik (comicbook paper) untuk profesional menggunakan ukuran B4 sedangkan untuk yang sekedar suka-suka biasanya menggunakan ukuran A4 atau B5. Dengan kertas B4 tentu kita akan lebih mudah dalam menyusun dan menggambar panel-panel komik, dan satu keuntungan lainnya gambar kita akan terlihat halus jika dicetak dalam ukuran yang lebih kecil. Kasusnya sama dengan foto digital yang resolusinya gede dibanding yang kecil.
Permasalahannya, di Indonesia jenis kertas ini belum pernah saya jumpai di toko buku umum. Jadi lupakan saja.
Tapi toh tak ada rotan akar pun jadi. Kita bisa menggunakan kertas HVS polos 90 gram atau kertas gambar yang lain. Cobalah beberapa merek dan jenis kertas yang tidak "mblobor" dan tentunya murah meriah. Biar nggak tekor kan..?
Salam NGOMIK,
Prangg RN (bayungyasa @ yahoo. com )